Kamis, 24 Januari 2013

TRAGEDI KANDANG MENJANGAN

Pada hari Rabu (15 april 98) dilangsungkan pertandingan sepakbola di Solo, antara PSIM Yogyakarta dengan ARSETO Solo. Keributan antar suporter menjadi seru gara-gara ada gejala lempar batu, dan menjadi ganas karena seorang pemain PSIM yang sedang pemanasan (akan menjadi pengganti) kena lemparan batu di kepalanya oleh
suporter Solo, bahkan pingsan cukup lama. Suporter PSIM yang saat itu berkekuatan sekitar 36 bus ASPADA serta puluhan kendaraan pribadi berada di pojok selatan stadion sriwedari tidak terima, kemudian ribut dan mendobrak pagar pembatas untuk masuk lapangan, tetapi dicegah aparat keamanan dari Polisi Anti Huru-hara lengkap dengan tamengnya. Para Suporter bersatu berhasil menjebol pagar pembatas Stadion Sriwedari, para aparat keamanan tambah berdatangan di tribun pojok selatan. Pertandingan terus berjalan, suporter Arseto Solo melempari suporter PSIM dari luar stadion menggunakan batu, suporter PSIM pun membalasnya.
Selesai pertandingan,suasana mencekam, suporter PSIM masih tertahan di dalam stadion,keributan antar suporter masih terjadi di luar stadion, sehingga beberapa mobil rusak, diantaranya mobil milik perwira Kopassus ada yang kena lemparan batu hingga pengemudinya turun mengeluarkan pistol. setelah berhasil keluar pun suporter PSIM harus berlindung dengan kursi bus yang ditaruh di pinggir kaca untuk melindungi lemparan dari suporter Arseto yang menyerang dari balik gang-gang jalan Salmet Riyadi yang mencekam malam itu. Malah sesekali  suporter PSIM turun dari bus membalas lemparan tersebut, sampai ada yang nekat mengejar masuk gang. .Ketika pulang ke Yogya,  rombongan suporter PSIM(sekitar 18 bus) dikawal oleh polisi, melewati komplek Kopassus Kandang Menjangan Kartosuro. Rombongan dicegat, dan dibelokkan masuk ke komplek Koppassus, di dalam suporter PSIM terlihat pasrah dengan  apa yang bakal mereka alami. Kaca-kaca bus dirusak dengan popor senapan M-16, semua penumpang disuruh bukak baju (padahal malam hari), tanda identitas(KTP atau SIM) ditahan, di bariskan dan dikampleng, dipukuli, ditendang, bahkan ada yang diinjak-injak oleh Koppassus. Salah satu supir bus ada yang luka parah.(Bahkan mobil polisi yang mengawal pun ikut pula dirusak, malah seorang polisi yang mengawal mulutnya dimasukin pistol :( ) 
Sambil berbuat semena-mena, para militer mengeluarkan ucapan-ucapan kotor dan biadab, antara lain:"ayo makan batu saja" " Biar cuma kopral saya bisa ngamplengi kamu" - " wah ini mesthi ada yang mahasiswa demonstran" - "wah ini gali, pakai tato"; dan lain sebagainya. Gak cuma Kopassus yang jaga malam saja yang menyiksa, Kopassus yang baru bangun tidur, masih memakai kaos dan celana pendek ikut masuk di bus, dan ikut memukuli suporter PSIM.(maklum pada saat itu sedang gencar-gencarnya militer pemerintah sangat sensitif terhadap rakyat sipil apalagi mahasiswa,merujuk aksi pra reformasi pada tahun itu juga.Lagipula Arseto adalah salah satu aset mendiang Presiden Soeharto, yang apabila diusik, bakal berakibat fatal.Terbukti setelah lengsernya Rezim Beliau, hancur pula Arseto) 
Sementara itu Sri Sultan Hamengku Buwono ke X, yang ikut menyaksikan sepakbola, sudah pulang duluan. Kemudian menerima telpon tentang kasus tersebut, dan balik kembali ke Kartosuro. Begitu Sri Sultan datang, komandan Koppasus merasa sungkan dan dilakukan perundingan. Akhirnya semua bus dilepaskan, kartu identitas dikembalikan.(saya dengar setelah kejadian ini komandan kopassus tersebut langsung dideportasi)Bus-bus dengan penumpang luka parah,sebagian pulang masuk Yogya jam 02.00 malam,dan ada satu bus yang baru pulang sampai Yogya jam 04.00 pagi. 
Masyarakat Yogya apalagi pendukung PSIM sangat menyesalkan tindakan para anggota Kopassus dan warga Solo, yang nyata-nyata jauh menyeleweng dari falsafah Pancasila, Sumpah Prajurit dan Sapta Marga serta nilai-nilai hak asasi manusia.Gerakan Krishna Mukti Yogyakarta

Ini merupakan awal perpecahan Jogja-Solo merambat ke dunia suporter, setelah dimulainya perpecahan Kerajaan Mataram pada tahun 1775 melalui Perjanjian Giyanti menjadi 2 kerajaan, Kerajaan Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat yang berkedudukan di Yogyakarta dan Kerajaan Mataram Surakarta Hadiningrat yang berkedudukan di Surakarta.

SEJARAH PSIM

PSIM. kependekan dari Persatuan Sepak Bola Incridible Mataram adalah sebuah klub sepak bola di Ngayogyakarta yang didirikan pada 5 September 1929 dengan nama awal Persatuan Sepakraga Mataram (PSM). Nama Mataram digunakan karena Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataram (Ngayogyakarta Hadiningrat). Kemudian pada tanggal 27 Juli 1930 nama PSM diubah menjadi PSIM seperti yang dikenal sekarang. Salah satu pemain PSIM yang menjadi legenda bagi sepak bola Indonesia adalah R. Maladi yang merupakan kiper PSIM dalam kompetisi Perserikatan 1931.

Saat ini PSIM berlaga di Kompetisi Ngayogyakarta Premier League, dengan pelatih Maman Durachman. PSIM memiliki kelompok suporter yang bernama Brajamusti (Brayat Jogja Mataram Utama Sejati).

|} |} Sejarah terbentuknya PSIM dimulai pada tanggal 5 September 1929 dengan lahirnya organisasi sepak bola yang diberi nama Perserikatan Sepak Raga Mataram atau disingkat PSM. Nama Mataram digunakan karena Yogyakarta merupakan pusat kerajaan Mataram. Kemudian pada tanggal 27 Juli 1930 nama PSM diubah menjadi Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram atau disingkat PSIM sebagai akibat tuntutan pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. PSIM sendiri saat itu sesungguhnya merupakan suatu badan perjuangan bangsa dan Negara Indonesia.

Pada tanggal 19 April 1930, PSIM bersama dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung, MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun) SIVB (Persebaya Surabaya), VVB (Persis Solo) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. PSIM dalam pertemuan tersebut diwakili oleh HA Hamid, Daslam, dan Amir Noto. Setelah melalui perbagai pertemuan akhirnya disepakati berdirinya organisasi induk yang diberi nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1931 dan berkedudukan di Yogyakarta.

Sejak tahun itu pulalah kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. Dalam kompetisi perserikatan, PSIM pernah menjadi juara pada tahun 1932 setelah dalam pertandingan final di Jakarta mengalahkan VIJ Jakarta. Selanjutnya PSIM berkali -kali hanya dapat menduduki peringkat kedua setelah kalah dalam pertandingan final kompetisi perserikatan pada tahun 1939, 1940, 1941, 1943, dan 1948.

Sejak Liga Indonesia bergulir pada tahun 1994, prestasi PSIM mengalami pasang surut yang ditandai dengan naik turunnya PSIM dari divisi utama ke divisiI Liga Indonesia. PSIM pernah mengalami degradasi pada Liga Indonesia 1994/1995 dan promosi dua tahun kemudian. Setelah bertanding selama tiga musim di divisi utama, PSIM kembali harus terdegradasi ke Divisi I pada musim kompetisi 1999/2000.

Tiga tahun kemudian pada Divisi I Liga Indonesia 2003 PSIM baru bangkit dan membidik target untuk promosi dengan persiapan tim yang matang. Di babak penyisihan PSIM bahkan dua kali mengkandaskan tim favorit Persebaya Surabaya dalam pertandingan tandang kandang dengan skor telak 3-1, dan 3-0, dan menjuarai Grup C. Sayangnya keperkasaan PSIM semakin lama semakin luntursehingga gagal melanjutkan dominasinya pada babak 8 besar yang berlangsung dengan kompetisi penuh. PSIM yang sejak awal memimpin klasemen harus puas berada di peringkat ke-4, dan berkesempatan untuk mengikuti playoff. Di babak playoff yang dimainkan di Solo, PSIM kalah bersaing dengan Persela Lamongan hanya karena perbedaan jumlah gol.

Akhirnya, pada tahun 2005 PSIM berhasil lolos ke kasta tertinggi liga indonesia setelah keluar sebagai juara divisi I yang dalam pertandingan final mengalahkan Persiwa Wamena di stadion Si Halak Harupat Bandung dengan skor 2-1. Mulai 2010 PSIM semakin eksis di kancah sepakbola nasional dengan prestasi yang semakin meningkat dan akhirnya mulai kompetisi 2011/2012 PSIM telah menjadi tim profesional yang tidak lagi mengandalkan dana dari APBD