Pada hari
Rabu (15 april 98) dilangsungkan pertandingan sepakbola di Solo, antara
PSIM Yogyakarta dengan ARSETO Solo. Keributan antar suporter menjadi
seru gara-gara ada gejala lempar batu, dan menjadi ganas karena seorang
pemain PSIM yang sedang pemanasan (akan menjadi pengganti) kena lemparan
batu di kepalanya oleh
suporter
Solo, bahkan pingsan cukup lama. Suporter PSIM yang saat itu
berkekuatan sekitar 36 bus ASPADA serta puluhan kendaraan pribadi berada
di pojok selatan stadion sriwedari tidak terima, kemudian ribut dan
mendobrak pagar pembatas untuk masuk lapangan, tetapi dicegah aparat
keamanan dari Polisi Anti Huru-hara lengkap dengan tamengnya. Para
Suporter bersatu berhasil menjebol pagar pembatas Stadion Sriwedari,
para aparat keamanan tambah berdatangan di tribun pojok selatan.
Pertandingan terus berjalan, suporter Arseto Solo melempari suporter
PSIM dari luar stadion menggunakan batu, suporter PSIM pun membalasnya.
Selesai
pertandingan,suasana mencekam, suporter PSIM masih tertahan di dalam
stadion,keributan antar suporter
masih terjadi di luar stadion, sehingga beberapa mobil rusak,
diantaranya mobil milik perwira Kopassus ada yang kena lemparan batu
hingga pengemudinya turun mengeluarkan pistol. setelah
berhasil keluar pun suporter PSIM harus berlindung dengan kursi bus
yang ditaruh di pinggir kaca untuk melindungi lemparan dari suporter
Arseto yang menyerang dari balik gang-gang jalan Salmet Riyadi yang
mencekam malam itu. Malah sesekali suporter PSIM turun dari bus
membalas lemparan tersebut, sampai ada yang nekat mengejar masuk gang. .Ketika pulang ke Yogya, rombongan
suporter PSIM(sekitar 18 bus) dikawal oleh polisi, melewati komplek
Kopassus Kandang Menjangan Kartosuro. Rombongan dicegat, dan dibelokkan
masuk ke komplek Koppassus, di dalam suporter PSIM terlihat pasrah
dengan apa yang bakal mereka alami. Kaca-kaca bus dirusak dengan popor
senapan M-16, semua penumpang disuruh bukak baju (padahal malam hari),
tanda identitas(KTP atau SIM) ditahan, di bariskan dan dikampleng,
dipukuli, ditendang, bahkan ada yang diinjak-injak oleh Koppassus. Salah
satu supir bus ada yang luka parah.(Bahkan mobil polisi yang
mengawal pun ikut pula dirusak, malah seorang polisi yang mengawal
mulutnya dimasukin pistol :( )
Sambil
berbuat semena-mena, para militer mengeluarkan ucapan-ucapan kotor dan
biadab, antara lain:"ayo makan batu saja" " Biar cuma kopral saya bisa
ngamplengi kamu" - " wah ini mesthi ada yang mahasiswa demonstran" -
"wah ini gali, pakai tato"; dan lain sebagainya. Gak cuma Kopassus yang
jaga malam saja yang menyiksa, Kopassus yang baru bangun tidur, masih
memakai kaos dan celana pendek ikut masuk di bus, dan ikut memukuli
suporter PSIM.(maklum pada saat itu sedang gencar-gencarnya militer
pemerintah sangat sensitif terhadap rakyat sipil apalagi
mahasiswa,merujuk aksi pra reformasi pada tahun itu juga.Lagipula Arseto
adalah salah satu aset mendiang Presiden Soeharto, yang apabila diusik,
bakal berakibat fatal.Terbukti setelah lengsernya Rezim Beliau, hancur
pula Arseto)
Sementara itu Sri Sultan
Hamengku Buwono ke X, yang ikut menyaksikan sepakbola, sudah pulang
duluan. Kemudian menerima telpon tentang kasus tersebut, dan balik
kembali ke Kartosuro. Begitu Sri Sultan datang, komandan Koppasus merasa
sungkan dan dilakukan perundingan. Akhirnya semua bus dilepaskan, kartu
identitas dikembalikan.(saya dengar
setelah kejadian ini komandan kopassus tersebut langsung dideportasi)Bus-bus dengan penumpang
luka parah,sebagian pulang masuk Yogya jam 02.00 malam,dan ada satu bus
yang baru pulang sampai Yogya jam 04.00 pagi.
Masyarakat
Yogya apalagi pendukung PSIM sangat menyesalkan tindakan para anggota
Kopassus dan warga Solo, yang nyata-nyata jauh menyeleweng dari falsafah
Pancasila, Sumpah Prajurit dan Sapta Marga serta nilai-nilai hak asasi
manusia.Gerakan Krishna Mukti Yogyakarta
Ini merupakan awal
perpecahan Jogja-Solo merambat ke dunia suporter, setelah dimulainya
perpecahan Kerajaan Mataram pada tahun 1775 melalui Perjanjian Giyanti
menjadi 2 kerajaan, Kerajaan Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat yang
berkedudukan di Yogyakarta dan Kerajaan Mataram Surakarta Hadiningrat
yang berkedudukan di Surakarta.
klo denger / baca suporter bola, mati or digebukin. gw sih happy2 aja. podo2 anarkis resiko sendiri
BalasHapuspasopat bajingan
BalasHapus